Pemikiran Islam Dibangun Oleh Akal

April 23, 2008

Katakanlah :” Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu.”

(TQS. Al-Ikhlas [112] : 1-2)

Sebagaimana disinggung sebelumnya, sebuah definisi yang benar harus memenuhi dua hal yaitu bersifat jami’an (menyeluruh) dan mani’an (mencegah, yaitu mencegah masuknya ma’na asing ke dalam sesuatu yang didefinisikan). Maka pemikiran islam didefinisikan sebagai upaya menilai fakta dari sudut pandang Islam. ( Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam,1990)

Dengan merujuk kepada definisi diatas, pemikiran islam mengandung tiga hal yaitu fakta (al waqi’); hukum (justifikasi); dan keterkaitan fakta dengan hukum.

Fakta dapat berupa benda maupun perbuatan. Fakta berupa benda hanya memiliki dua macam hukum, yakni mubah (halal) dan haram. Buah anggur, misalnya hukumnya mubah, sedangkan apabila buah anggur dijadikan khamer maka hukumnya haram. Dalam konteks benda ini, ada sebuah kaidah syariat yang diambil dari nash-nash al-Qur’an dan al Hadits yaitu :

“Al ashlu fl ql-asyaai al-ibaahah ma lam yarid daliilu at-tahrimi”

[Hukum asal setiap benda adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.]

Sedangkan jika fakta berupa perbuatan, maka hukumnya ada lima, yakni fardlu (wajib), mandub (sunah), mubah, makruh dan haram. Misalnya, shaum Ramadhan hukumnya wajib, shadaqah hukumnya sunah (mandub), makan roti hukumnya mubah, berbicara di wc hukumnya makruh, dan riba itu hukumnya haram.

Dalam konteks perbuatan ini, ada kaidah syariat yang diambil dari dalil al Qur’an dan al Hadirs yang berbunyi :

“Al ashlu fi al-af’aali at-taqayyadu”

[Hukum asal setiap perbuatan adalah terikat ( dengan hukum syara)]

Hukum dan fakta harus diambil dari dalil-dalil syariat, yaitu dari kitabullah dan Sunnah Rasul, dan apa-apa yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah rasul, yaitu ijma’ sahabat dan Qiyas.

Pemikiran Islam ada dua macam, yaitu pemikiran yang berkaitan dengan aqidah, seperti keimanan kepada Allah, kepada Malaikat, kepada rasul-rasul-Nya, kepada Kitab-Kitabnya, Kepada Hari Kiamat dan Kepada Qadla dan Qadar.

Dan pemikiran yang berkaitan dengan hukum syariat yang bersifat praktis, seperti Sholat, Zakat, Shaum, Haji dan Jihad.

Pemikiran Islam dibangun diatas dua asas, yakni akal dan syariat.

Islam telah memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya. Allah mendorong manusia untuk memperhatikan alam semesta dan apa saja yang ada didalamnya dengan cermat, sehingga dapat menghantarkannya kepada keimanan tentang adanya sang Khalik, Sang Pencipta. Allah Swt berfirman :

“Pada dirimu sendiri, apakah kamu tiada memperhatikan?” [TQS. Adz-Dzariat [51] : 21)

“Perhatikanlah manusia itu, dari apa ia diciptakan”. (TQS ath-Thariq [86] : 5)

“Apakah mereka tidak memperhatikan pada kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah”. ( TQS. Al-A’raf (7) 185)

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini.” ( TQS. Al-Jatsiyah : 3-4)

Dengan pengamatan seperti itu, manusia akan mampu membuktikan adanya sang Khalik, Sang Pencipta, Yang Maha kuasa.

Dengan akalnya manusia bisa menjangkau keberadaan al-Khalik yang Maha Esa, yang telah menciptakan makhluk, dengan akalnya pula, manusia bisa membuktikan bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, dan Muhammad saw adalah Rasulullah. Oleh karena itu, akal merupakan asas bagi aqidah Islam. Tidak aneh kiranya ketika seorang arab Baduy (orang awam) tatkala ditanyakan kepadanya “ Dengan apa kamu mengenal Rabbmu?” Jawabnya :

“ Tahi onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada orang yang berjalan.”

Namun perlu diingat, untuk masalah iman, suatu dalil tidak senantiasa bersifat aqli,namun bisa juga bersifat naqli, tergantung perkara yang diimaninya. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra/akal, maka dalil keimanannya bersifat aqli, tetapi jika diluar jangkauan panca indra/akal, maka ia didasarkan kepada dalil naqli.

Hanya saja perlu diingat bahwa sumber suatu dalil naqli juga ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan sumber dalil naqli tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dijadikan sebagai sumber dalil naqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqliyah. Dalam hal ini Imam Syafi’i berkata :

“Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepad Allah swt. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indera dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.” (Dinukil dari Materi Dasar Islam hal 3, dari Kitab karya Imam Syafii “Fiqhul Akbar” hal 16)

Kiranya pemaparan tersebut sudah bisa menunjukkan bahwa aqidah Islam adalah aqidah aqliyyah. Akidah yang menjadi asas bagi pemikiran Islam. Akidah yang dibangun berdasarkan akal

Wallahu’alam.

# # #

[Ibnu Khaldun Aljabari, Daarul Fiqr, 13 April 2008]

Membaca, Bukan Hobby Tapi Perintah Ilahi

April 23, 2008

Ungkapan membaca adalah hobby tampaknya harus di revisi. Karena, dengan pemahaman membaca sebagai hobby bisa jadi tidak akan terlalu mengoptimalkan kemampuan membaca kita. Hal ini disebabkan argumentasi membaca sebagai hobby hanya sekedar pemuasan naluri saja. Ketika menemukan bacaan yang menarik, atau ketika mood sedang bagus, baru melakukan aktivitas membaca. Bagaimana kalau mood sedang turun,? Bagaimana kalau buku yang harus dibaca tidak menarik? Bagaimana kalau sedang malas?.

Sekiranya membaca adalah hobby, apakah dibenarkan apabila ada seseorang berkata, ”hobby saya minum air putih”, padahal setiap orang minum air?! Padahal, semua orang tahu bahwa ini bukanlah hobby, tetapi kebutuhan primer.

Begitu juga tidak benar jika seseorang berkata ,” hobby saya makan.” Mengapa tidak benar? Sebab, makan adalah kebutuhan primer, bukan hobby. Semua manusia pasti akan lapar sehingga ia harus makan. Namun bisa jadi dalam hal makanan ini ada makanan yang lebih disukai dibandingkan dengan makanan yang lainnya. Memang ini adalah fitrah setiap manusia.

Namun, jika kita menghalangi atau tidak mau makan, minum, bahkan menghalangi atau tidak mau bernafas, hal tersebut bisa menyebabkan tubuh kita lemas bahkan akan membawa kepada kematian. Nah, membaca juga haruslah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Menurut Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Spiritual Reading (2007), bagi seorang muslim membaca tidak boleh dijadikan hobby tetapi haruslah menjadi bagian dari kehidupannya, sebab aktivitas membaca merupakan perintah dari pencipta Manusia, Allah swt. Sebagaimana Firmannya:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuionya.” (TQS.Al-Alaq : 1-5)

Dalam surat Al-Alaq ini perkataan “Bacalah” sampai di ulang 2 kali. Mengapa? Hal ini mengindikasikan aktivitas membaca haruslah dijadikan konsep hidupnya orang muslim.

Kata pena(al-Qalam) disebutkan sebagai penegas pada surat tersebut, sehingga perintah tersebut sangat konkret. Maksud dari membaca adalah membaca sesuatu yang ditulis dengan pena, tanpa ada kata-kata kiasan yang mengandung arti. ( Spiritual Reading: 2007)

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dengan demikian ’tahu’ adalah tujuan dari membaca. Allah swt tidak memulia Al-Qur’an dengan kata-kata,”Belajarlah.” Namun, Dia menyebutkan dengan tegas “Bacalah!

Sungguh, banyak cara untuk belajar, seperti dengan mendengar, melihat, pengalaman, dan latihan. Akan tetapi, sarana yang agung tetap”membaca”. Dengan hal ini, seakan Allah mengajarkan kepada kita, bahwa meskipun di sana ada sarana yang banyak untuk belajar, namun kita harus tetap membaca.

* * *

Jalan Menuju Iman: Allah Tuhanku

April 23, 2008

“Kenapa Tuhanku Allah? bukan Sang Budha Gautama yang disembah oleh orang Budha, atau Yesus Kristus tuhannya orang Kristen, atau Sang Hyang Widi yang dijadikan Tuhan oleh para penganut Kepercayaan ataupun Causa Prima,/Sang Maha Mutlak tuhannya sebagian para cendikiawan dan sebagian para filosof, atau, kenapa pula aku tidak menjadi orang ateis yang mengingkari adanya tuhan?”

Sekiranya terbetik pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita berkenaan dengan perkara diatas, hal itu merupakan sesuatu yang wajar dikarenakan itu adalah perkara akidah. Pertanyaan di atas terkesan sederhana, namun apabila kita kaji dan telusuri litelatur yang bertebaran di muka bumi ini, akan kita temukan para filosof, kaum cerdik pandai hingga para ulama yang ternyata energinya tersedot untuk mencoba menjawab pertanyaan diatas.

Adakah Tuhan?

Untuk menjawab mengapa tuhan itu Allah SWT, kiranya perlu dibuktikan terlebih dahulu benarkah tuhan itu ada?

Bukti bahwa segala sesuatu mengharuskan adanya Pencipta yang menciptakannya, sesungguhnya dapat diterangkan sebagai berikut:

Bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal, terbagi dalam tiga unsur, yaitu; manusia, alam semesta dan hidup (nyawa/biotik). Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang, serta saling membutuhkan antara satu dengan lainnya.

Misalnya manusia. Manusia terbatas sifatnya, karena ia tumbuh dan berkembang sampai pada batas tertentu yang tidak dapat dilampuinya lagi. Karena itu, jelaslah bahwa manusia bersifat terbatas.

Begitu pula halnya dengan hidup (nyawa/biotik). Juga bersifat terbatas. Sebab, penampakannya bersifat individual semata. Bahkan, apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa hidup ini berakhir pada satu individu itu saja. Dengan demikian, jelas bahwa hidup itu bersifat terbatas.

Alam semesta pun demikian, memiliki sifat terbatas. Sebab, alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa, yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Sedangkan himpunan segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi, alam semestapun bersifat terbatas. Kini jelaslah bagi kita bahwa manusia, hidup (nyawa/biotik) dan alam semesta, ketiganya bersifat terbatas.

Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, bisa kita simpulkan bahwa ia tidak “azali”

  • Archives

  • Categories

  • Blogroll

  • Meta


  • Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.